Bayangan dan harapan…


Minggu pagi ini langit mulai bersikap tidak konsisten. Baru beberapa menit lalu cahaya matahari memaksaku keluar dari peraduan, sekarang rinai gerimis sudah turun teratur membentuk sulur-sulur benang tak berujung dari langit. Indah memang. Tapi rinai-rinai gerimis ini membuatku malas beranjak ke kampus. Padahal ada agenda outbound dengan anak-anak panti hari ini.

Drrrrttt….drrrttt….drrrttt…suara getar HP-ku memecah kesunyian. Lima menit berikutnya aku sibuk membolak-balik selimut, bantal, buku-buku kuliah, dan semua barang yang berserakan di kamarku, mencari sumber suara getar yang tadi terdengar. Tugas kuliah memang selalu menghasilkan kekacauan di kamarku.

Ah, itu dia. HP-ku ternyata keselip di kolong tempat tidur. Kebiasaan.

Lu dimana?? udah ditungguin anak-anak dari tadi…cepetan!!”

SMS singkat dari Seril, PJ outbound hari ini. Terpaksa deh aku bergegas ke kamar mandi. Ritual mandi pagi yang biasanya setengah jam, kini kupersingkat jadi lima menit saja. Eh, jangan dipikir setengah jam di kamar mandi aku luluran atau semacamnya ya. Mandinya sih tetep, lima menit, sisanya ya bengong, melamun, nyanyi-nyanyi, atau bahkan semedi, kontemplasi. Kamar mandi memang tempat paling tepat untuk hidup sejenak dengan diri sendiri, menikmati ‘me time‘ yang semakin sulit ditemui akhir-akhir ini.

Sambil meneriakkan lagu-lagu Jason Mraz, aku bersiap-siap berangkat kampus. Celana jeans, kaos item, jaket, jam tangan. Perfect. Kuambil beberapa barang yang berserakan di lantai kamar, dan dengan serampangan kumasukkan semua barang-barang itu ke ransel mungilku. Setengah berlari aku keluar dari rumahku, sepatu ketsku yang belum terpasang sempurna terseok-seok mengikuti kecepatan langkahku.

Tetes-tetes air sedikit demi sedikit menembus jaketku. Cepat kupasangkan capucon untuk melindungi kepalaku. Gerimis seperti ini biasanya menyisakan sedikit pening di kepala, jika ia dibiarkan liar menembus helai-helai rambut.

Tepat di tikungan, kutatap lekat-lekat rumah kaca itu. Sudah seminggu ini aku tidak menemukan bayangan itu. Dan sudah seminggu pula aku selalu menatap rumah kaca itu tiap melewati tikungan ini. Berharap sebuah bayangan tiba-tiba muncul di belakang bayanganku sendiri. Berharap ada yang menatap mataku saat aku menatap kaca itu. Berharap ada derap langkah yang melengkapi irama derap langkahku.

Ah, sial. Gerimis yang sama dengan saat itu. Saat terakhir, dan untuk pertama kalinya, aku beradu pandang dengannya. Di rumah kaca itu.

Entah perasaan apa ini namanya. Rindu? Ah, mungkin terlalu berani aku memakai kata-kata itu. Mungkin lebih tepatnya aku penasaran. Ya. Sangat penasaran. Sampai detik ini pun pertanyaan itu masih selalu muncul dalam benakku, “Kenapa bayangan itu selalu mengikutiku?”

*

Sesampainya di kampus, langit masih setia dengan inkonsistensinya. Sebentar hujan, sebentar panas. Tapi tepat saat aku memasuki gerbang kampus. Rinai gerimis yang sama menyapaku lagi. Benar memang yang dibilang banyak orang, hujan itu selalu memunculkan rindu dan kenangan.

“Haduh, lama banget sih kamu. Anak-anak udah siap berangkat dari tadi. Tu si Serli udah ngomel-ngomel aja dari tadi..” Rey menyambutku di pintu gerbang dengan muka cemberut. Tergopoh-gopoh ia membawa perlengkapan outbound. Sepertinya mau dibawa ke mobilnya Egi yang diparkir di depan kampus.

Aku cuma nyengir sejenak. Kebiasaan kalo udah telat. Paling-paling pada marah bentar, trus baikan lagi kalau udah mulai outbound. Udah hapal.

“Gila lu ya… Lu kan penanggung jawab acara. Nggak seharusnya lu telat kayak gini!” Serli tiba-tiba udah muncul di depanku sambil berkacak pinggang.

“Hehe…Sorry Ser, tadi malem gue lembur, ada kerjaan mendadak.” Lagi-lagi kupasang jurus nyengirku.

Serli menatapku lekat-lekat. Ada amarah di matanya yang bulat. “Gue tau lu banyak kerjaan…tapi bukan begini caranya jadi pemimpin.”

Aku terdiam. Semalam memang ada proyek terjemahan dari dosen. Lumayan duitnya bisa buat beli buku. Kegemaranku beli buku memang tidak sebanding dengan kemampuan finansialku. Jadi kalau lagi pengin banget beli buku, aku akan cari proyek tambahan, meski terkadang emang ada hal lain yang harus kukorbankan. Termasuk tanggung jawabku kali ini.

“Oya, ada tambahan tenaga buat jadi fasilitator outbound. Rey cuma bisa ikut sesi pertama, jadi terpaksa gue cari fasilitator lagi.” Serli mulai menurunkan nada bicaranya. “Tuh orangnya, yang pakai kaos putih, lagi ngobrol ma Egi. Lu briefing dia ya. Tadi sih udah gue jelasin dikit, tapi lu yang lebih tau detilnya kan.”

Serli menunjuk ke arah seorang cowok berkaus putih di bawah menara kampus. Egi melihat kami, dan melambaikan tangannya.

“Gue bantu Rey dulu ya..” Tanpa pamit, Serli meninggalkanku mematung di depan gerbang kampus. Entah kenapa rinai gerimis tiba-tiba menderas. Entah kenapa pula aku tiba-tiba merasa mati rasa.

Egi dan si cowok berkaus putih berjalan mendekatiku. Aku masih mematung dalam diam. Rasa-rasanya saat ini juga ingin meminjam pintu kemana saja milik Doraemon, dan secepatnya kabur dari sini. Sempat terlintas doa jahat, agar gempa tiba-tiba datang, sehingga aku bisa pura-pura panik dan berlari. Gempa kecil saja, apapun itu, yang penting aku punya alasan untuk pergi secepatnya dari sini.

Ah, sial. Kenapa kakiku jadi berat begini? Kenapa hatiku lebih dulu dilanda gempa dan berserak tak karuan? Kenapa harus dia?

Seandainya waktu bisa berputar kembali. Aku ingin berhenti saja di depan rumah kaca di tikungan gang. Berhenti dan diam di sana, menunggu bayangan. Ya. Menunggu bayangan sepertinya jauh lebih baik daripada aku di sini sekarang, bertemu harapan yang sudah aku kubur dalam-dalam.

Advertisements

One thought on “Bayangan dan harapan…”

  1. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://joinkerjaonline.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s