Kenapa bayanganmu selalu mengikutiku?


Langit mendung sore ini. Sisa gerimis sejak siang tadi masih setia menyapa angin. Menghadirkan rinai-rinai kecil yang teruntai turun seperti helai benang tak berujung dari langit. Membawa hawa dingin yang lembut menyentuh kulit sawo matangku.

Aku bergegas keluar dari gedung kampusku. Menembus rinai gerimis yang tertatih-tatih mengikuti langkahku. Langkah kakiku yang biasanya ringan melayang, kini harus sesekali terhenti karena ada genangan air di sana-sini. Sepatu kainku terlalu rapuh jika harus melawan genangan-genangan itu. Jadi lebih baik aku sedikit mengalah dengan sesekali berjalan berjingkat, atau melakukan lompatan-lompatan kecil setiap kali bertemu dengan genangan air. “Semoga saja tidak terpeleset,” gumamku pelan.

Baru beberapa menit keluar dari kampus, aku merasa ada langkah-langkah kecil mengikutiku. Aku berusaha tak peduli, karena aku harus tetap berkonsentrasi dengan langkahku jika ingin sepatu kesayanganku selamat sampai di rumah. Lagipula, bukankah wajar jika ada orang yang berjalan di belakangku? Toh ini kampus, bukan kuburan.

Sepuluh menit berlalu. Perjuanganku berakhir sudah. Atap rumahku mulai tampak dari tikungan terakhir gang rumahku, membuatku lega karena sepatuku masih tampak baik-baik saja sampai detik ini. Melewati sebuah rumah kaca di ujung gang, aku menyadari sesuatu hal yang ganjil. Sekilas bayangan seseorang tampak dari pantulan kaca. Aku menatap matanya yang menatap mataku. Sedetik berlalu. Ya, hanya sedetik. Bahkan mataku tak sempat menyapa matanya, dan bertanya, “Kenapa kamu menatapku?”

Ia mengalihkan pandangannya dari pandanganku. Aku kembali menekuri sepatuku, mencoba mengalihkan pandanganku dari pandangannya. Dan sayup-sayup kudengar derap langkah sepatumu. Derap langkah yang sama kudengar beberapa menit lalu dari gerbang kampusku. Derap langkah yang sama kudengar beberapa hari belakangan di setiap derap langkahku.

Aku pura-pura tak peduli. Kupercepat langkahku mendekati gerbang rumahku. Tanpa menoleh aku masuk ke teras rumahku. Tapi dari ujung penglihatanku, aku masih bisa melihat bayangannya. Bayangan sama yang kulihat beberapa hari belakangan. Bayangan sama yang menemani bayanganku sendiri akhir-akhir ini. Bayangan sama…yang kepadanya ingin sekali  kubertanya, “Kenapa kamu selalu mengikutiku?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s