Catatan Relawan (part 2: episode Muntilan berduka))


Teman2 relawan, mungkin beberapa di antara kalian belum sempat menengok kondisi para korban di daerah Salam dan Muntilan. Dua daerah ini berada di kabupaten Magelang. Kalau teman2 yang dari Jogja mau ke kota Magelang, atau ke Semarang lewat jalur darat (non-kereta api), teman2 akan melewati dua daerah ini. Kalau teman2 sempat menengok peta zona aman Merapi, teman2 akan menemukan dua daerah ini berada dalam zona merah 20km (lihat peta di sini: http://merapi.combine.or.id/posko/).

Dan zona ini berada di arah Barat dan Barat Daya Merapi. Jadi, kalau teman2 sering mendengar arah awan panas Merapi menuju Barat/Barat Daya, maka bisa dipastikan dua daerah yang saya sebutkan di atas akan diteror hujan abu, pasir atau kerikil (tergantung besar dan kecepatan material yang disemburkan Merapi tentunya).

Ini adalah beberapa foto yang diambil setelah letusan besar Merapi hari Jum’at (5 Nov’2010) dini hari. Letusan itu mengirimkan abu dan pasir dalam jumlah besar ke daerah ini. Hasilnya bisa dilihat di sini:

Pohon-pohon banyak yang tumbang
Kota Mati

Sebagian besar warga pun dievakuasi ke daerah yang lebih aman (Mungkid, Ngluwar, Salaman, dsb.). Sebagian lagi yang ada di sekitaran 19km dari puncak mencoba tetap bertahan di rumah. Ada yang agak membingungkan saya sebenarnya. Daerah Kauman, Muntilan (dekat RSU Muntilan) yang jaraknya dari puncak Merapi sekitar 17km sudah ditinggal ngungsi sebagian besar penduduknya. Tapi rupanya, 2000an lebih warga dari kecamatan Dukun dan Srumbung (dan beberapa dari daerah lain) justru menjadikan tempat itu sebagai tempat pengungsian. Ada empat titik pengungsian di daerah itu, yaitu di masjid Al Fath, di Pondok Pesantren, SMP Muhammadiyah (depan RSU) dan di SMA Van Lith (mohon dikoreksi jika saya salah).

Beberapa dari pengungsi rupanya menganggap daerah itu cukup aman untuk mengungsi. Well, mendengar para ibu2 merasa yakin mereka aman (dan nyaman) di situ membuat saya bingung harus berkata apa. Haruskah saya mengusik ‘ketenangan’ hati mereka dengan mengatakan mereka masih berada di zona tak aman?? Jujur saja saya tidak tega. L

Warga Kauman yang masih bertahan pun bahu membahu menjadi relawan, mengurusi ratusan-bahkan ribuan- warga desa lain yang butuh bantuan. Sampai hari ketiga mereka mengungsi bantuan belum banyak yang menjangkau daerah itu. Beruntung sekali ada komunitas Jalin Merapi yang dengan cepat dan tanggap menyalurkan bantuan kepada posko-posko yang membutuhkan. Adanya web Jalin (http://merapi.combine.or.id) memudahkan saya menyebarkan informasi daerah-daerah mana yang belum tersentuh bantuan. Thousands thumbs up for Jalin!!!

Kalau melihat kondisi dua daerah ini (termasuk daerah tempat tinggal saya di kelurahan Gulon, Salam) sepertinya pemulihan kondisi fisik-ekonomi-dan (tentunya) psikologi masyarakat akan butuh proses yang cukup panjang. Pasir tebal yang bercampur abu dan air kini mengerak seperti semen. Menutupi jalan-jalan, halaman rumah, genting2, pohon, dan tentu saja sawah. Banyak tanaman mengering di sawah2. Alhamdulillah padi masih tampak hijau di beberapa tempat. Memberi sedikit harapan untuk masa depan kami.

Deru ekonomi macet total. Bahkan aliran listrik masih mati sampai detik ini. Satu dua toko mulai kemarin sudah buka. Entah stok-nya akan bertahan sampai kapan. Pasar Muntilan pun terhenti aktivitasnya sampai saat ini.

Banyak warga saat ini kehilangan mata pencaharian. Sementara perut harus terus diisi, dan bayi-bayi butuh susu untuk asupan gizi. Kalau bantuan tak datang, sudah bisa dipastikan mereka akan kelaparan. Sayangnya, media tak banyak meliput daerah ini. Kampus saya pun tak berani mengirim bantuan ke sana dengan alasan daerah itu berada di zona tak aman. Sebagi sebuah institusi pendidikan ternama, akan menyalahi aturan jika mengirimkan bantuan untuk warga yang bertahan di zona tak aman.  Alasan yang masuk di akal memang. Tapi tidak di hati saya.

Mungkin media juga berpikir sama kali ya. Tidak meliput dengan alasan itu akan menyalahi aturan. Entahlah. Yang saya tahu (dan peduli) bahwa ribuan warga di sana butuh makan. Mereka Cuma manusia yang mungkin sering berpikir salah, seperti halnya kita. Rasanya tak adil jika karena mereka bertahan di zona tak aman lantas tak kita pedulikan. Mereka punya alasan yang mungkin tak bisa kita pahami. Tapi sekali lagi, yang saya tahu (dan peduli) mereka hanya manusia yang butuh makan.

Tak pernah berani saya membayangkan kalau kondisi seperti ini terus bertahan. Bantuan pasti akan terus berkurang, karena toh para donatur dan relawan hanya manusia biasa yang punya keterbatasan. Mereka juga punya kehidupan sendiri yang harus dilanjutkan. Tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan, entah chaos apa yang akan terjadi nanti.

Wallahua’lam. Semoga kami diberi ketabahan, kesabaran dan keihklasan dalam menghadapi musibah ini. Siapapun yang menolong kami dengan hati, apapun bentuk pertolongan itu, hanya Tuhan yang mampu membalasnya. Kami hanya manusia biasa yang hanya mampu berdoa. Siapapun kalian, dimanapun kalian berada, semoga berkah-kebahagiaan-keselamatan selalu menyertai hidup kalian.

P.S: jadi relawan memang butuh keberanian. Tak boleh takut akan apapun: takut kotor, takut capek, takut sakit, atau takut akan sesuatu bernama ‘birokrasi’.

(tulisan ini dibuat tanpa tendensi apapun. Hanya sekedar berbagi,,,semoga bisa mengetuk hati siapapun yang membaca)

Yogya, 12 November 2010)

Advertisements

3 thoughts on “Catatan Relawan (part 2: episode Muntilan berduka))”

  1. Kepada para sukarelawan..atas nama kami seluruh keluarga dan warga..saya tepatnya di gulon..sangat mengucapkan beribu terima kasih,dan alhamdulillah aku bisa berjumpa keluargaku kembali dalam keadaan sehat dan damai,salut kepada pihak pihak yg saya kirimi email,maupun sms yg saat itu adalah murni dari gejolak jiwa merasakan bagaimana situasi tsb terjadi..amal perbuatan anda semua menjadi catatan sendiri yg akan memberikan kebahagian kelak..amin,insyaalloh terima kasih,salam taqlim saya,janna salim

    1. Amiin….semoga bencana seperti ini tidak akan terulang lagi di kemudian hari.
      Eniwei, salam kenal…saya orang Gulon juga ^_^

      salam,

      Prie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s