Untuk siapapun yang memilih pergi (sebuah catatan senja yang sedikit muram)


Sudah hampir dua minggu Merapi tanpa henti memuntahkan isi perut bumi. Sudah tak terhitung berapa kubik material bermanfaat yang ia persembahkan untuk masa depan bumi. Suara gemuruh, gumpalan awan panas, hujan abu, sudah jadi teman kami sehari-hari. Berita di media tak henti membahas Merapi, dari yang biasa sampai yang lebay,,,,dari yang ‘terdepan’ sampai yang ‘terbelakang’, dan dari yang fakta sampai yang hoax. Jarak aman pun tak henti berganti, dari yang semula hanya 5km, naik jadi 10km, bertambah lagi jadi 15km,,,dan terakhir bertahan di angka 20km (Bismillah, semoga tidak bertambah…:) ). Dan angka terakhir inilah yang merubah suasana Jogja akhir-akhir ini.

Jogja dulu indah di kala senja dan malam. Jogja dulu dipenuhi orang berlalu-lalang. Jogja dulu ceria dan senantiasa ramah. Jogja dulu…selalu dibumbui dengan kalimat-kalimat “Jogja kota terindah, jogja kota penuh kenangan, aku cinta jogja”, dan berbagai kalimat penuh harap yang lain.

Kini…

Jogja sepi tak berpenghuni. Kos-kosan hanya diisi satu-dua mahasiswa yang masih bertahan, ditambah tikus dan kecoa yang bingung  mau pindah kemana. Kampus sepi,,,ditinggal mahasiswa dan DOSEN-nya kembali ke kampung halaman. Jogja kini tak seceria dulu. Tak seramah dan sehangat dulu. Jogja kini sepi, sendiri, berdebu…T.T

Hanya beberapa titik saja yang terlihat ramai. Titik-titik pengungsian. Terlalu ramai bahkan, karena jumlah penghuninya terlalu banyak, tak sebanding dengan ukuran tempat yang digunakan.

Dan,,, keramaian itu butuh kalian, kawan. Mereka butuh bantuan kalian, mereka butuh tenaga kalian, mereka butuh didengarkan, dan di’manusia’kan.

Tidak seharusnya mereka ditinggalkan. Tidak seharusnya mereka diabaikan.

Untuk siapapun yang mengaku cinta jogja,,,jangan tinggalkan ia bersedih sendirian, kawan. Pedulikan ia, rawatlah ia, sembuhkanlah lukanya..

Untuk siapapun yang memilih pergi meninggalkan. Terima kasih, kalian mengajarkan kami apa arti kesetiaan, apa arti pengorbanan, apa arti sendiri…dan ditinggalkan…:(

Untuk siapapun yang kembali dan bertahan. Terima kasih, kalian telah mengajarkan kami apa arti kehidupan…^_^

Note: tetap selalu ingat bahwa pengungsi tidak hanya ada di Jogja,,,ingatlah mereka yang butuh kalian di Muntilan, Magelang, Klaten atau Boyolali.

Magelang, 9 November 2010

Di antara geliat makhluk-makhluk Tuhan menggapai secuil berlian…:D

Advertisements

6 thoughts on “Untuk siapapun yang memilih pergi (sebuah catatan senja yang sedikit muram)”

    1. tengkyu juga sista,,,you should love it more than I did,,,let’s do something for your city, and people suffered in it…^_^

  1. mb pri,,ak pgn kmbali,,tp g taw carany T.T
    py iki mb,,trnyata berada jauh dt4 aman tp jauh dr org2 trcinta tdk kalah berat jika dbandingkan dgn berada dekat dgn kluarga yg sdang mnderita,,huhuuuhuhu,,
    but i always pray for all of us, in jogja 🙂

    1. Iyo nduk,,,rasane wes campur aduk ki,,,T.T

      kirim doa yang banyak buat kami yaaa,,,,ingat, doakan juga yang di Muntilan, magelang,Klaten, dan Boyolali,,,mereka bisa jadi jauh lebih kurang beruntung ketimbang pengungsi2 di Jogja…

      keep praying for us!!

    1. Iyo yak,,,paling tidak bencana ini membuka hati kita semua,,,dan juga membuka mata kita, agar tahu seperti apa orang2 yang selama ini ada di sekitar kita. Semoga semua terbuka mata hatinya….kami sangat butuh relawan…T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s